Prompt #20: Lelaki# Ayah dan Ubasuteyama

Aku menghabiskan waktu dengan ayahku di sebuah kedai kopi, “ayo ayah kita pergi sekarang.”

Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Apa? aku tidak dengar.”

Mendekatkan mulutku ke telinganya, pendengaran lelaki tua ini sudah tidak sebagus dulu “Ayah ayo kita pergi, nanti kemalaman.”

“Baiklah ayo kita pergi.”

Aku membawa ayahku ke sebuah hutan di tepian sungai.

“Sudah lama kita tidak kesini nak, dulu kau sering ku ajak bertamasya dan memancing disini.”

“Iya ayah, sudah lama sekali terakhir kita kesini saat aku kelas tiga SMP sungguh masa yang menyenagkan bersama keluarga dan sekarang ayah sudah tua renta seperti ini.”

“Nak, bisakah kita melihat matahari terbenam sebelum kita pergi ke hutan?”

“Tentu yah, matahari terbenam disni adalah yang paling indah di kota kita ini, tepian sungai memantulkan cahaya matahari yang jingga diiringi suara jangkrikĀ  dan angin berhembus pelan memecah permukaan air sungai sejuknya sampai membuat ku merinding.”

Senja sudah berubah gelap berganti gemerlap lampu kota yang menghampar luas dibalik rindangnya pepohonan di seberang sungai.

“Ayo yah kita masuk hutan.” Dengan suara agak keras.

“Baiklah.” Aku memapahnya karena ku tahu dia tak akan mampu berjalan dengan keadaannya sekarang.

***

“Terimakasih nak cukup sampai disini.”

“Baiklah, inilah tradisi kita Ubasuteyama. terimakasih atas semuanya.” Aku tak kuasa menahan pedih harus meninggalkan ayah ku namun ayah terlihat tegar.

“Kau sudah besar dan sudah bekeluarga, aku dan almarhum ibu sudah berusaha sebaik mungkin membesarkanmu dengan cinta kasih sayang. Aku meminta dibuang disni karena hutan ini dan sungainyalah banyak kenangan tentang kita.

Tak tahan lagi aku kemudian membawa ayah ku pulang dengan berlinang air mata, persetan dengan tradisi, ayahku lebih berhaga dari pada sebuah tradisi.

NB: Ubasuteyama tradisi di Jepang membuang orang tua yang sudah tua renta ke hutan atau kegunung agar tidak membebani sang anak.

Iklan