Hujan Turun Bukan Salah Kita

Terasa sempit sesak, sungguh sangat sesak

Sakit namun tidak luka yang kurasa, aku membungkuk menahan sesak ini sakit sungguh sakit

Kenapa dunia memperlakukanku seperti ini, dunia sungguh tidak adil
Mereka yang tidak perlu bersusah payah kini berpangku kaki, sedangkan aku kini hanya bisa menangis.

Yah memang dunia tidaklah adil, apa yang kau harapkan?

Tidak semua yang kau mau itu bisa tercapai, sudahlah peluk saja aku peluk agar aku juga dapat merasakan sesak yang kau rasa

Dekatkan jantungmu dengan jantungku agar aku bisa merasakannya

Kau tidak gagal, kau dari semula yang diam sekarang sudah maju

Lihat angin yang membelai dedaunan itu, lihat air yang mengalir di sungai

Semua tidak ada yang salah, tidak ada yang sia – sia dan,

Hujan yang turun bukan salah kita.

Jingga

 

Ku seruput lagi pekat hitamnya caffein
Mereka yang tak terlihat membelai penutup tubuh pepohonan
Sayup – sayup belaian fajar memudar hilang
Tak kan lama lagi akan menjelang

Langit yang terbias biru perlahan menghilang
Sudah sejak sejam tadi aku memandang
Ku hisap senti demi senti, batang demi batang
Sungguh nikmat caffein dan nikotin disantap bersamaan

Lihat! senja akhirnya datang
Sungguh indah jingga terpampang sepanjang garis cakrawala
Sejam berlalu, jingga berganti hitam berseri bintang

Suatu Cerita Tentang

Dingin, mereka yang tak terlihat hanya lewat

Menerobos dinding kuat walau gagal mereka berhasil dalam satu hal

Hari ini gelap, pantas saja mereka yang tak terlihat terasa cekat

Menggiring memori pada satu pasal

Diary kasat mata terus saja melekat

Kotak ini mengalunkan harmoni massal

Cerita kebun binatang, taman bunga juga ada

Namun sayang jarum kecil itu hanya dapat melaju

Mungkin memang salah anjing laut menyapa duyung

Namun angin yang membelai dedaunan tidaklah salah…