Hak dan Kewajiban

Hak terlalu dibesarkan, salahkah?

Perlu diketahui dunia ini selalu saja mengagungkan hak, salah sedikit berbicara tentang HAK dan HAM.

Tapi tidakkah berfikir seharusnya dahulukan kewajiban baru menuntut hak.

Berbicara tentang hak, orang tua memukuli anak menjadi sebuah pelanggaran HAM.

Tidakkah kita sadari tidak banyak yang menuntut akan kewajiban, namun hak selalu saja dituntut.

Jalankanlah kewajiban maka hak yang anda tuntut tidak akan menjadi masalah.

Karena hak atau Ham, orang – orang banyak berlindung dari kesalahannya mengatasnamakan hak/ham.

Iklan

Prompt #20: Lelaki# Ayah dan Ubasuteyama

Aku menghabiskan waktu dengan ayahku di sebuah kedai kopi, “ayo ayah kita pergi sekarang.”

Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Apa? aku tidak dengar.”

Mendekatkan mulutku ke telinganya, pendengaran lelaki tua ini sudah tidak sebagus dulu “Ayah ayo kita pergi, nanti kemalaman.”

“Baiklah ayo kita pergi.”

Aku membawa ayahku ke sebuah hutan di tepian sungai.

“Sudah lama kita tidak kesini nak, dulu kau sering ku ajak bertamasya dan memancing disini.”

“Iya ayah, sudah lama sekali terakhir kita kesini saat aku kelas tiga SMP sungguh masa yang menyenagkan bersama keluarga dan sekarang ayah sudah tua renta seperti ini.”

“Nak, bisakah kita melihat matahari terbenam sebelum kita pergi ke hutan?”

“Tentu yah, matahari terbenam disni adalah yang paling indah di kota kita ini, tepian sungai memantulkan cahaya matahari yang jingga diiringi suara jangkrikĀ  dan angin berhembus pelan memecah permukaan air sungai sejuknya sampai membuat ku merinding.”

Senja sudah berubah gelap berganti gemerlap lampu kota yang menghampar luas dibalik rindangnya pepohonan di seberang sungai.

“Ayo yah kita masuk hutan.” Dengan suara agak keras.

“Baiklah.” Aku memapahnya karena ku tahu dia tak akan mampu berjalan dengan keadaannya sekarang.

***

“Terimakasih nak cukup sampai disini.”

“Baiklah, inilah tradisi kita Ubasuteyama. terimakasih atas semuanya.” Aku tak kuasa menahan pedih harus meninggalkan ayah ku namun ayah terlihat tegar.

“Kau sudah besar dan sudah bekeluarga, aku dan almarhum ibu sudah berusaha sebaik mungkin membesarkanmu dengan cinta kasih sayang. Aku meminta dibuang disni karena hutan ini dan sungainyalah banyak kenangan tentang kita.

Tak tahan lagi aku kemudian membawa ayah ku pulang dengan berlinang air mata, persetan dengan tradisi, ayahku lebih berhaga dari pada sebuah tradisi.

NB: Ubasuteyama tradisi di Jepang membuang orang tua yang sudah tua renta ke hutan atau kegunung agar tidak membebani sang anak.

Prompt #19: Mengadu

Monday Flash Fiction Prompt#19

Aku memandangi foto aku dan ibuku melintasi jembatan disebuah wahana, kami bergandengan tangan aku tersenyum memeluknya dan kemudian lelap dalam tidur.

“Pak, aku minta uang spp sekolah pak sudah telat tiga bulan.”

Bapakku hanya diam saja dengan mukanya yang kusut, sepertinya habis mabuk semalam.

“Aku tak punya uang, bilang saja pada gurumu nanti aku yang kesana.” sambil menenggak botol miras.

“Tapi pak,” belum sempat aku melanjutkan tamparan sudah menempel di pipiku.

“Sudah pergi sana, tinggalkan aku sendiri.”

***

“Ibu, apa yang harus ku lakukan? Bapak tiap malam mabuk – mabukan. Uang Spp ku sudah tiga bulan belum dibayar, aku terancam dikeluarkan dari sekolah. Bapak juga sering kasar padaku, bapak sudah tidak kerja lagi, tiap hari aku harus ngamen demi sesuap nasi untuk bapak dan aku. Aku ingin ikut ibu. Maaf aku menangis di makam mu Bu.”

Hujan Turun Bukan Salah Kita

Terasa sempit sesak, sungguh sangat sesak

Sakit namun tidak luka yang kurasa, aku membungkuk menahan sesak ini sakit sungguh sakit

Kenapa dunia memperlakukanku seperti ini, dunia sungguh tidak adil
Mereka yang tidak perlu bersusah payah kini berpangku kaki, sedangkan aku kini hanya bisa menangis.

Yah memang dunia tidaklah adil, apa yang kau harapkan?

Tidak semua yang kau mau itu bisa tercapai, sudahlah peluk saja aku peluk agar aku juga dapat merasakan sesak yang kau rasa

Dekatkan jantungmu dengan jantungku agar aku bisa merasakannya

Kau tidak gagal, kau dari semula yang diam sekarang sudah maju

Lihat angin yang membelai dedaunan itu, lihat air yang mengalir di sungai

Semua tidak ada yang salah, tidak ada yang sia – sia dan,

Hujan yang turun bukan salah kita.