Fiksi “Reinkarnasi”

Lima tahun sudah sejak Maria pergi, kecelakaan itu mengambil nyawanya. Aku teramat sangat mengingatnya, rasanya tak pernah terbayangkan apa lagi terpikir oleh ku menginginkannya pun tidak. Rasanya perih disini, apakah
luka? sepertinya tidak, tapi kenapa ini terasa sangat pedih.

***

Masih teringat kata – katanya saat terakhir…

“Kamu tahu tentang reinkarnasi?”

“Reinkarnasi?”

“Biar pun kamu sudah meninggal, kamu akan kembali lagi ke dunia ini lagi sebagai anak – anak”

“Atau mungkin bisa saja kucing atau bunga yang indah, jadi aku sama sekali tidak sedih, hanya saja ada satu hal…”

“Hanya saja ada satu hal…” tak sempat terucap serasa dia direnggut paksa dari ku.

Kenapa aku selalu terbayang akan kata terakhirnya itu, selalu saja menghantui ku, sudah lima tahun sejak kepergian nya namun masih saja bayang, senyum, serta canda nya menghantui ku. Namun sampai saat ini aku merasa ada sesuatu yang ingin Maria sampaikan pada ku, ataukah ini hanyalah prasangka  saja.

Sepertinya aku bermimpi lagi kenapa bayang Maria terlihat duduk di pojok kursi kamar ku, mungkin hanya halusinasi ku saja.

“Hai lex..” suara itu  menyapa ku

Berdiri terpaku tak ingin ku toleh kan kepala ku ke arah suara itu di belakang ku.

“Haaahh aku berhalusinasi lagi” suara ku sekedar memecah kesunyian malam itu

***

“lex…” semakin keras suara itu memanggil ku

Kali ini ku beranikan diri ku menoleh kebelakang

“Hhhhaaaaaahh kau..” tak sepatah kata pun keluar dari mulut ku, kenapa bayangannya terasa begitu nyata. Ku kumpulkan keberanian ku dan melangkah pergi meninggalkan bayangan itu.

***

“Lex kenapa kau tak mempedulikan ku?” suara itu membangunkan ku

“Maria, kenapa bayang mu selalu menghantui ku? kau membuat ku semakin gila”

“Aku juga tidak mengerti, aku tidak berusaha membuat mu gila atau menghantui mu, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa ada disini”

“Maria kau kan sudah mati!!”

“Aku tahu, namun aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa ada disini, aku tidak bisa lari Lex”

Bayangan ataukah hantu sudah seminggu ini dia ada di rumah ku berbicara dengan ku, orang – orang bahkan telah menganggap ku gila.

“Mar, mungkin aku sudah gila berbicara dengan hantu seperti mu tapi setelah lima tahun kenapa kau baru muncul sekarang?”

“Aku juga tidak mengerti lex”

“Kenapa harus aku yang bisa melihat mu, kenapa tidak orang lain saja?”

“Mungkinkah, ada sesuatu janji yang belum kau selesaikan dan itu berhubungan dengan ku?”

“Hmm mungkin saja, tapi aku tidak tahu pasti”

Waktu terus berlalu, disisi lain aku ingin dia pergi dan tenang disana namun aku juga merasa sangat bahagia dia berada disini dan aku tak ingin kehilangan nya lagi, aku pun tak mengerti kenapa padahal kami hanyalah sahabat yang saling mengagumi.

Hari ini kuputuskan untuk pergi ke rumah Maria sendiri, aku tidak mau memberi tahu dia agar dia tidak khawatir.

“to tok tok”

“Sebentar” suara dari dalam terdengar

“Ha Alex??” dengan wajah aga bingung namun aku menangkap sedikit mimik ceria menyambut kedatangan ku

“Kamu apa kabar Lex? makin ganteng saja”

“Hehehe Tante ada – ada saja,kabar baik tante apa kabar?”

“Yah begini lah lex seperti yang kamu lihat”

Ekspresi nya  saat kedatangan ku tadi telah menjelaskan betapa dia sangat kehilangan anaknya.

“Silahkan duduk Lex, setelah Maria meninggal rumah ini terasa sepi”

“Iya tante terimakasih”

“Kamu lah satu – satu nya teman Maria yang datang kemari setelah kematiannya, tante sangat senang kamu sudah mau datang kemari, Maria pasti sangat senang kamu kemari”

Ibu nya kemudian mengajak ku ke kamar maria

“Ini lah kamar Maria, telah kosong kami menyimpan semua barang – barangnya, karena mengingatnya sangat menyedihkan”

“Hmm ini buku harian Maria mungkin kamu mau menyimpannya”

“Oh buku  harian Maria ya, terimakasih tante” mungkin disini tertulis apa rahasia yang bisa membantunya untuk tenang

Setelah itu aku  langsung pulang kerumah

***

“Mah aku pulang, sepertinya tadi ada tamu ya mah”

“Oh papa sudah pulang, hmm itu, tadi ada Alex main kemari”

“Alex ya, sudah lama sekali tidak bertemu dengannya, kenapa dia kemari?”

“Hmm tidak, hanya berkunjung saja, tadi aku memberikan buku harian Maria kepada nya, aku sangat membenci nya kenapa dia datang kemari aku sangat tidak suka”

“Sudahlah mah, kenapa kamu harus membenci Alex, jangan jadikan dia korban perasaan mu”

“Aku tidak suka, kedatangannya hanya membuat ku kembali teringat tentang Maria, sangat pedih sekali, aku teramat sangat kehilangan nya” kemudian menangis tak mampu lagi untuk menahan kepedihan yang dirasakan

“Tidakkah  kamu sadar mah, kamu sudah lima tahun seperti ini, kamu seolah menghakimi ku”

“Apa kamu tidak ingat, kita masih punya Doni anak kita kamu sama sekali tidak menganggapnya ada, apa kamu tahu dia di sekolah bagaimana?”

“Berapa tinggi badannya? siapa pacarnya? apa hobinya? apa kamu tahu?”

“Ibu memang tidak tahu apa – apa tentang aku” sambil menangis Doni berlari ke kamar, sudah dari tadi dia menguping pembicaraan.

Beberapa saat terdiam dan kembali menangis

“Kalian berdua merindukan nya kan?” sambil mengelap tetesan air mata istrinya

“aahhhrrgg” istrinya terkejut

“Aku tidak menyuruh mu untuk melupakan Maria mah, boleh saja mengingatnya tapi mari kita rindu kan bersama – sama aku, kamu dan Doni juga” sambil memeluk istrinya kemudian menangis”

***

Aku kemudian berhenti di sebuah cafe dan mulai membaca buku harian Maria

“Hari ini aku jalan bareng  Alex, sangat menyenangkan”

“Hari ini aku jalan bareng  Alex, sangat menyenangkan”

Kenapa buku harian Maria isinya seperti ini, sambil membuka halaman demi halaman sampai akhirnya aku menemukan tulisan

“Hari – hari yang ku lalui tiap hari nya adalah anugerah aku sangat menikmatinya, Terimakasih Tuhan namun saat aku pergi aku tak ingin orang – orang yang ku tinggalkan menangisi ku. Bergegarlah seluruh badan ku tak mampu menahan kesedihan tersadar akan sesuatu.

“Maria” sambil menangis memeluk buku  harian Maria

Ku kebut sepeda motor ku melalui jalanan ibu kota bergegas pulang kerumah, ingin sekali lagi melihat Maria, memeluknya, dan aku tak ingin dia pergi lagi.

“Mariaaaa” teriak ku sekeras nya mencari dimana dia

“Maria, aku pulang, kamu dimana?” terus mencari namun tak nampak sosok nya

“Kemana kamu Mar? apakah ini sudah berakhir?”

Kemudian aku melihat sepucuk surat di atas meja dan ku baca, aku tak tahan dan kembali menangisi apa yang tertulis

“Hanya saja ada satu hal, aku tidak ingin orang menangisi ku setelah keadaan ku begini, kenang lah aku dengan keceriaan ku”

“Kurasa sudah saatnya aku pergi, aku selalu ingin bertemu denganmu, aku selalu ingin memanggil namamu, untuk mengatakan maaf”

“Aku menyukai mu, aku mencintai mu Lex cinta ku padamu adalah cinta yang singkat dimana aku ingin menikahi mu”

“Namun aku tak sempat untuk mengatakannya, aku ingin terus bersama mu maka aku akan bereinkarnasi”

“Kali ini aku bisa mengucapkan selamat tinggal dengan baik”

Sambil menangis “Maria aku mencintaimu, maaf aku tak sempat mengatakannya”

Run_D

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s