Terkutukkah aku?


Usia ke 30 dirasa sudah cukup matang bagi wanita seusia ku untuk berumah tangga, bukan nya aku pilih – pilih atau aku tak mau untuk berumah tangga, mungkin aku memiliki. Trauma atau apalah namanya, aku sendiri takut untuk membuka diri aku tak yakin dapat mendapatkan pria yang dapat menerima kekurangan ku.

***

“Aku khawatir dengan keadaannya haruskah aku mencarikan jodoh untuknya, lagi.”

“Aku sendiri takut dia akan jadi perawan tua nantinya setelah semua kejadian yang menimpanya beberapa tahun terakhir ini.”

***

“Hmm kalau aku terserah kamu aja yang terbaik buat anak kita aku pasti dukung, namun apa masih bisa?”

“Apa masih ada yang mau dengannya? terlepas dia memiliki masa lalu yang sangat suram.”

***

“Bagaimana pun aku harus mencarikannya, dia anak ku aku ingin dia bahagia”

“Terlepas dari masa lalu nya yang sangat suram dan mengundang banyak tanya orang – orang dan menjadi bahan gosip teman bahkan tetangga”

“Aku ingin semua ini bahagia pada akhirnya. aku tak peduli apakah ini kutukan atau semacamnya, aku lebih percaya Tuhan, doa ku selalu untuknya.”

“kau kan lebih dekat dengannya dibandingkan aku cobalah untuk sedikit menghiburnya dan memberi nasehat yang baik.”

“Katakan pasti suatu saat ada pria yang dapat menerima dia, bagaimana pun manusia tidak ada yang sempurna lagi pula aku sudah sangat mendambakan seorang cucu.”

***

Hari ini 27 april 2013, aku telah menemukan lagi kebahagiaan itu, rasa itu, perasaan yang indah itu yang telah lama hilang. aku akan menikah pagi ini, Akankah ini akan jadi pernikahan terakhir ku tumbuh bersama menua bersama dengan nya? bagaimana pun ini adalah pernikahan ke 3 ku. masih menyimpan khawatir dalam hati ku yang sekali kali mencoba goyah kan ku tentang dua suami ku yang meninggal kecelakaan setelah  menikahi ku.

Satu bulan telah berlalu rasa bahagia ini rasanya seperti abadi, perlahan kekhawatiran yang menggelayuti perlahan sirna.

***

“Semoga ini selamanya. Amin”

“Aku senang akhirnya mereka bahagia, aku sudah tidak sabar lagi ingin menimang cucu”

***

“Aku ingin cucu laki – laki ya mah anak pertama sebaiknya laki – laki menurut wejengan orang dulu sih hehe”

***

“Hmm kalau aku yah yang penting punya cucu laki – laki atau perempuan itu sudah rezeki dari Tuhan kan.”

***

“Mama”

Sambil menangis ku peluk wanita ini dengan erat melepaskan semua kepedihan ku, aku tak mengerti kenapa ini bisa terjadi.

“apa salahku ma? apa salahku? ” semakin menjadi aku menangis memeluk ibu ku.

***

“Kenapa nak? ” sambil ku peluk anak kesayangan ku ini dengan dekap hangat sekedar untuk menenangkannya.

“Rido menceraikan ku yah, apa salahku?”

“Dia hanya berkata” “aku takut akan celaka nantinya” semakin jatuh saja air mata ku yang tak pernah habis ini.

***

“Tuhan apa dosa ku pada Mu sehingga nasib anak ku seperti ini? apa dosa kami? rasa nya tak pernah aku berpaling sedikit pun dari Mu Tuhan”

Tenggelam dalam pelukannya menangis, sambil tersenyum “aku menyayangi mu nak”

Run_D

Iklan

6 thoughts on “Terkutukkah aku?

  1. -Paragraf pertama bercerita ttg kegalauan wanita usia 30 yang belum menikah. Paragraf selanjutnya, sudut pandangnya berganti. Kayaknya itu percakapan antara ibu bapak gadis yang galau tadi. Laiknya percakapan, memakai tanda kutip. Karena kalau sekedar narasi, beda bahasanya. Tapi yang saya tangkap, itu seperti percakapan. Ohya, hati-hati pula ketika perpindahan sudut pandang.

    -Bagian kedua, saya kaget ketika mengetahui itu pernikahan ketiga (ceritanya masih kelanjutan yang pertama, kan?). Owalah, berarti kegalauannya bukan karena belum menikah, tapi karena jandanya. Sudah jadi rahasia umum, kalau janda tuh banyak gosipnya. Terutama yang tinggal di kompleks perumahan.

    -Nah, bagian terakhir ini kabur. Kenapa tiba2 dicerai?

    -Penulisan dialog, diawali dengan huruf kapital. Begitupun setelah titik, selalu memakai huruf besar.

    -Nah, yang terakhir. saya terganggu ketika -ku, -mu dan -nya selalu terpisah. Padahal itu disambung dengan kata di depannya. Seperti “apa salah ku ma? apa salah ku? ” seharusnya “Apa salahku, Ma? Apa salahku?”
    Judulnya juga, -kah itu disambung

    Ide ceritanya oke. Kisah yang sering terjadi dimasyarakat. Mungkin bisa dieksplore lagi dari segi emosinya, agar mengaduk-aduk hati pembaca hehehe…

    Sekian hihihi, mungkin yang ahli EYD bisa menambahkan.
    CMIIW

    • makasih banget nih masukannya.
      memang lemah di EYD nya ternyata wwaduu heheh
      memang cerita nya aga kabur di terakhir, maksud supaya pembaca mikir itu kenapa, kayanya gagal ya hehe 🙂
      baik lah siap buat tulisan2 kedepannya.. maksih banget nih emang benar kata bg ajos harus siap di kritik 🙂
      siap di edit lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s